BUMN Karya Catat Kinerja Negatif di Semester I/2022

BUMN Karya

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – BUMN Karya mengalami kinerja buruk selama semester I tahun 2022, atau sejak Januari hingga Juni.

Tercatat beberapa BUMN Karya mengalami kerugian besar yaitu Waskita Karya dan Hutama Karya dengan besaran hingga ratusan miliar Rupiah.

Yang pertama PT Hutama Karya (Persero) yang mencatatkan kerugian bersih mencapai Rp671 miliar, dengan penurunan hingga 45,67 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp1,23 triliun.

Kerugian besar ini dialami HK akibat adanya pertumbuhan pendapatan usaha perusahaan sebesar 1,90 persen dari sebelumnya Rp7,98 triliun menjadi Rp8,13 triliun.

Pemasukan terbesar PT HK paling besar dari sektor jasa konstruksi jalan tol yakni Rp3,6 triliun, jasa konstruksi Rp2,1 triliun dan pengoperasian jalan tol Rp1,6 triliun.

Meski rugi lebih dari Rp600 miliar, PT Hutama Karya bertekat untuk segera membenahi kinerja dengan masuknya dana Penyertaan Modal Nasional (PMN).

Pemerintah sudah menyetujui suntikan PMN sebesar Rp30,56 triliun di tahun depan guna menunjang pengerjaan proyek strategis yang digarap PT HK, terutama Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

BUMN Karya lainnya yang rugi besar dalam paruh pertama tahun ini adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk yaitu sebesar Rp236,51 miliar.

Dalam laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) disebutkan pada periode yang sama di tahun 2021, WSKT masih mencatat laba Rp154 miliar.

Pada periode Januari-Juni 2022, BUMN ini sebenarnya berhasil menaikkan pendapatan hingga 29,3 persen sebesar Rp6 triliun, namun tetap belum bisa menutupi kondisi kerugian yang dialami preusahaan.

Corporate Secretary Waskita Karya Novianto Ari Nugroho menjelaskan, untuk semester kedua tahun ini, pihaknya akan terus fokus pada pembenahan bisnis dan operasionalnya.

Perseroan juga akan mengoptimalkan penyerapan dana PMN dari pemerintah untuk merampungkan berbagai proyek eksisting.

Sementara PT Wijaya Karya (Persero) Tbk di semester I tahun ini memang tidak masuk kategori rugi besar, tapi laba bersihnya ‘terjun bebas’ hingga 98,31 persen.

Berdasarkan rilis keuangan WIKA, laba BUMN Karya ini hanya mencapai Rp1,32 miliar dari total pendapatan Rp3,16 triliun.

Realisasi pendapatan WIKA juga turun 19,38 persen dibandingkan semester I 2021 sebesar Rp3,92 triliun.

Dengan total pendapatan itu, BUMN ini beruntung masih bisa mendapat laba kotor sebesar Rp358 miliar, atau tumbuh 33 persen secara tahunan.

Merurut Dirut WIKA, Agung Budi Waskito, tahun ini pihaknya sedang menghadapi berbagai tantangan, salah satunya pemberi kerja yang kesulitan likuiditas. []