BUMN Rugi! Ini Daftar Pelat Merah dengan Utang Tertinggi

BUMN rugi

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – BUMN rugi masih terjadi meski sejumlah perusahaan pelat merah sedang mengalami peningkatan laba yang signifikan.

Bahkan nilai dari kerugian BUMN bisa mencapai angka yang fantastis hingga puluhan triliun Rupiah.

Lantas, mana saja perusahaan milik negara yang mengalami kerugian terparah? Berikut ulasannya.

1. PT GARUDA INDONESIA

Maskapai milik negara ini mengalami kesulitan finansial yang sangat parah hingga terancam bangkrut lantaran utangnya yang ‘menggunung’.

Emiten berkode GIAA ini tercatat mengalami kerugian bersih hingga Rp23 triliun pada September 2021, dan pada Juni 2022 diperkirakan nilainya terus meningkat.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk juga memiliki utang yang menumpuk di berbagai kreditur, mulai dari perusahaan asing hingga sesama BUMN.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra sebelumnya menyampaikan ada klasifikasi pembayaran utang terhadap kreditur yakni kepada BUMN, non BUMN, dan lessor sesuai besarannya.

Untuk utang kepada BUMN yaitu Pertamina, AP I, AP II, AirNav, dan anak usaha BUMN lainnya akan dibuat menjadi tagihan jangka panjang.

Sementara kepada pihak non BUMN akan dibayar tunai jika nilainya di bawah Rp 255 juta, dan kepada perusahaan swasta dibuatkan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT).

Adapun nilai utang akibat bisnis Garuda yang terus merosot sudah mencapai US$ 800 juta, dan akan dibayar secara tunai, penerbitan surat utang, dan juga konservasi saham.

2. PT WASKITA KARYA

BUMN Karya ini tercatat sebagai salah satu BUMN Rugi dengan kinerja keuangan yang masih tertekan pada kuartal pertama tahun 2022.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk sebelumnya melaporkan nilai kerugian bersih yang dialami perusahaan membengkak naik 18 kali dibandingkan kuartal I tahun 2021.

Jika di kuartal I tahun lalu WSKT merugi ‘hanya’ Rp46, 9 miliar, di kuartal I tahun ini ruginya meroket hingga Rp830 miliar.

Sebenarnya pendapatan perusahaan mengalami kenaikan tipis dari Rp2,67 menjadi Rp2,74 triliun, tapi tetap saja tidak bisa menutupi kerugian yang dialami.

3. INDOFARMA

Setelah sektor aviasi dan infrastruktur, ada juga BUMN Farmasi yang mengalami kerugian besar, yaitu PT Indofarma Tbk (INAF).

Perusahaan pelat merah ini mengalami rugi bersih hingga Rp51,18 miliar pada kuartal I tahun ini, padahal di periode yang sama tahun lalu justru berhasil cetak laba Rp1,8 miliar.

Kerugian INAF terjadi lantaran penjualan bersih yang merosot, dari sebelumnya Rp 373,2 miliar menjadi Rp339 miliar.

Nilai kerugian makin meningkat akibat beban pokok penjualan yang membengkak dari sebelumnya Rp198 miliar menjadi Rp309 miliar.

BUMN Rugi Tanggungjawab Direksi

Untuk meningkatkan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN), belum lama ini Presiden RI Joko Widodo telah mengeluarkan aturan terkait kerugian BUMN.

Salah satu poin dalam Dalam PP Nomor 23 Tahun 2022 ini menyebutkan bahwa jajaran direksi harus bertanggungjawab jika perusahaan mengalami kerugian.

Jika ditemukan kerugian itu akibat kelalaian dan kesalahan anggota direksi, maka bisa dituntut ke pengadilan untuk pertanggungjawaban.

Selain itu, Komisaris dan dewan pengawas juga bertanggung jawab jika BUMN rugi, tapi jika sudah melakukan pengawasan dengan itikad baik, tidak mempunyai kepentingan pribadi dan telah memberikan nasihat kepada direksi, tidak harus bertanggungjawab. []