Gula Petani Dibeli PTPN, Dirut: “Siap Menjadi Produsen Terbesar”

Gula Petani

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Gula petani akan dibeli oleh Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) dengan harga yang tinggi.

Hal ini sesuai arahan dari Menteri Badan Usaha Negara (BUMN) Erick Thohir yang meminta BUMN Pangan bergerak untuk mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan.

Atas arahan ini, maka Holding Perkebunan Nusantara (PTPN) berjanji akan mengutamakan pembelian gula petani agar stabilitas harga gula dalam negeri bisa terjaga.

Hal ini ditegaskan oleh Dirut Holding PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani, dan menyebut bahwa hal itu sudah ditetapkan dalam SK nomor DPAT/KEP/18/2022 yang dirilis pada Jumat 20 Mei 2022.

Menurut Ghani, pihak perusahaan sudah sepakat untuk melaksanakan pembelian gula petani jenis gula kristal putih (GKP) milik petani tebu yang diproduksi pada musim giling tahun 2022 dan diolah di pabrik milik PTPN Group.

“Kami terus berupaya menjadi menjadi produsen gula putih kristal dengan stok terbesar di Indonesia. Maka Manajemen PTPN Group sudah memerintahkan seluruh anak usahanya untuk membeli gula petani. Tentunya dengan mengedepankan prinsip-prinsip bisnis dan tata kelola perusahaan yang baik,” kata Ghani dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (23/5/2022).

MELALUI ANAK USAHA

Soal harga, Ghani menjelaskan, harga pembelian GKP dari petani akan berada di angka Rp11.500/kg, artinya ada meningkat Rp1.000 dari harga tahun lalu.

Namun PTPN Group hanya akan membeli gula petani melalui perwakilan petani tebu yang sudah memiliki perwakilan yang akan menandatangani dokumen berupa surat, kontrak jual-beli, surat perintah setor, dan lain-lain.

Dalam proses pembeliannya, PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara selaku anak usaha Holding PTPN akan menjadi fasilitator dengan mekanisme lelang elektronik (e-auction).

Ghani memastikan lelang ini akan berjalan transparan karena menggunakan prinsip open market, accountable, dan tidak mendistorsi pasar.

Selain itu, PT KPBN juga memastikan tidak ada fee kepada petani agar meringankan beban mereka sehingga petani tebu bisa mendapatkan harga jual yang maksimal.

Ghani pun berharap dengan harga Rp11.500 per kg, para petani bisa mendapatkan full 100 persen dari hasil penjualannya, tanpa terkena potongan jasa atau fee penjualan.

“Ini merupakan kami untuk menjaga keekonomian hasil budi daya tebu dan usaha gula yang dijalankan oleh masyarakat. Sehingga bisa juga menjaga keberlangsungan usaha perkebunan tebu yang dikelola warga sekitar,” jelasnya.

Ia menegaskan, petani tebu adalah mitra penting dalam sistem rantai pasok (supply chain) industri gula nasional karena merekalah penyedia bahan baku dan barang setengah jadi.

Peran petani tentu sangat penting dalam kelancaran bisnis PTPN Group, sehingga penetapan harga acuan tebu petani juga tidak semata-mata berdasarkan perhitungan bisnis.

“Kebijakan ini untuk mendukung ketahanan pangan serta ekonomi kerakyatan, terutama meningkatkan kesejahteraan petani,” ungkapnya. []