BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Peristiwa hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menyorot kembali profil Indonesia Air Transport (IAT) sebagai pemilik armada tersebut.
Maskapai ini dikenal sebagai salah satu pemain lama di industri penerbangan niaga Indonesia, khususnya pada segmen charter dan penyewaan pesawat.
Indonesia Air Transport didirikan pada 10 September 1968 dan selama puluhan tahun beroperasi melayani berbagai kebutuhan penerbangan khusus, termasuk penerbangan logistik, penumpang charter, serta dukungan untuk sektor energi dan pertambangan.
Dengan pengalaman panjang di industri aviasi, perusahaan ini sempat menjadi bagian dari struktur bisnis terbuka melalui pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia.
Pada 2006, Indonesia Air Transport melantai di pasar modal melalui penawaran umum perdana (IPO) dengan kode saham IATA. Namun, seiring perubahan strategi korporasi, perusahaan induknya melakukan transformasi bisnis signifikan.
Pada 2022, IATA melaksanakan rights issue dan mengalihkan fokus usaha dari jasa angkutan udara ke sektor investasi energi, khususnya batu bara. Pasca rights issue tersebut, PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) resmi menjadi pemegang saham pengendali.
Sejalan dengan perubahan arah bisnis, IATA berganti nama menjadi PT MNC Energy Investments Tbk. Dalam perjalanan transformasi itu, Indonesia Air Transport secara bertahap dilepas dari portofolio Grup MNC.
Sejak 2024, Indonesia Air Transport tidak lagi tercatat sebagai bagian dari lini bisnis MNC Energy Investments. Hal ini tercermin dalam laporan keuangan kuartal I/2025, di mana pendapatan dari penyewaan pesawat sudah tidak lagi dikonsolidasikan.
Dengan demikian, aktivitas penerbangan Indonesia Air Transport berdiri sebagai entitas terpisah dari emiten energi tersebut.
Berdasarkan data terkini Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU), kepemilikan saham Indonesia Air Transport saat ini berada di tangan PT Sinergi Terang Abadi dengan porsi mayoritas sebanyak 2.016.429 saham, serta PT Persada Utama Investama dengan satu saham.
Dari sisi manajemen, Indonesia Air Transport dipimpin oleh Adi Tri Wibowo sebagai Direktur Utama. Ia didampingi R.B.E. Retno Setyonugroho sebagai Direktur, sementara posisi Komisaris diemban oleh Cut Sofia Mekarsari.
Struktur manajemen ini bertanggung jawab atas operasional dan tata kelola perusahaan di tengah dinamika industri penerbangan nasional yang terus berkembang. []





