Investasi di Fintech Disetujui OJK, Bank Mandiri Siap Berkolaborasi

Investasi di Fintech

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Investasi di Fintech oleh perbankan bakal mendapat ‘lampu hijau’ dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI.

Dalam Rancangan Peraturan OJK, bank umum akan diperbolehkan menanam modal atau berinvestasi di perusahaan finansial teknologi atau Fintech.

Aturan baru soal investasi di fintech ini disambut baik oleh salah satu bank BUMN yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Bank Mandiri menyatakan siap membuka kerjasama dan kolaborasi dengan perusahaan teknologi yang bergerak di bidang finansial.

Sebab kebijakan OJK dalam investasi fintech ini akan mendorong pengembangan digital di sektor layanan keuangan.

Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi AS Aturridha mengatakan pihaknya akan mengkaji secara menyeluruh arahan dan ketentuan dari regulator.

“Kami menyambut baik rancangan peraturan OJK ini, tentu kami akan membuka diri dalam berkolaborasi dengan mitra yang baru. Bank Mandiri siap berinvestasi di fintech untuk mengeksplorasi berbagai peluang bisnis di masa depan,” kata Rudi, Kamis (10/3/2022).

Menurut Rudi, Mandiri sudah masuk dalam investasi di fintech melalui perusahaan modal ventura yang juga anak usaha Mandiri yaitu Mandiri Capital Indonesia (MCI).

Perusahaan ini dibentuk pada tahun 2016 dan sudah menanamkan modalnya pada 15 perusahaan teknologi di Indonesia.

Sejumlah perusahaan rintisan yang tergabung dalam MCI bergerak di sektor layanan keuangan berbasis teknologi, seperti Amartha, LinkAja, Investree, dan Cashlezz.

Selain itu, anak usaha Bank Mandiri ini juga bahkan berinvestasi di dua perusahaan unicorn Indonesia, yaitu Bukalapak dan GoTo,

ATURAN BARU

Untuk diketahui, saat ini OJK RI tengah menggodok aturan baru mengenai investasi di fintech atau kegiatan penyertaan modal oleh bank umum.

Dalam Rancangan Peraturan tersebut, disebutkan bahwa Bank Umum hanya dapat berinvestasi di perusahaan yang bergerak di bidang keuangan.

Sementara Bank Umum Syariah juga hanya bisa menanamkan modalnya pada perusahaan keuangan yang menerapkan prinsip-prinsip syariah.

Sebelum berinvestasi, pihak bank juga harus memastikan bahwa perusahaan yang akan diberi modal ini adalah perusahaan resmi yang berizin dan terdaftar di OJK.

Dalam aturan OJK soal investasi di fintech juga disebutkan bahwa penyertaan modal kepada perusahaan teknologi bisa dilakukan melalui pasar modal.

Namun penyertaan modal hanya bisa dilakukan untuk investasi jangka panjang, dan bukan sebagai praktik jual beli saham.

Kemudian pihak bank juga wajib menetapkan total penyertaan modal maksimal hanya sebesar 35 persen dari modal Bank, yang terdiri atas modal inti dan modal pelengkap sesuai ketentuan OJK. []