BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Kinerja Bank BSN menunjukkan pertumbuhan positif hingga Agustus 2026. PT Bank Syariah Nasional (Bank BSN) membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp721 miliar. Angka tersebut tumbuh 36,72 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan pembiayaan dan transaksi digital. Bank BSN mencatat total pembiayaan Rp63,2 triliun hingga Agustus 2026. Nilainya meningkat 26,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumny
Total aset perseroan juga mencapai Rp81,5 triliun. Angka tersebut tumbuh 20,75 persen secara tahunan. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp64 triliun dengan pertumbuhan 13,19 persen.
Direktur Utama Bank BSN Alex Sofjan Noor mengatakan perseroan terus memperluas pembiayaan sehat. Bank BSN juga menjaga likuiditas selama menjalankan ekspansi bisnis.
Digitalisasi turut menjadi salah satu penggerak pertumbuhan. Platform Bale Syariah by BSN telah memiliki 238.897 pengguna aktif hingga Agustus 2026. Total transaksi mencapai 3,29 juta kali dengan nilai sekitar Rp6,57 triliun.
Kinerja Bank BSN Diperkuat Ekspansi Ekosistem Emas Syariah
Selain mengembangkan layanan digital, Bank BSN memperluas ekosistem keuangan syariah melalui kerja sama dengan PT Mentari Bayt Coin (MBC). Kedua perusahaan menandatangani Perjanjian Kerja Sama dalam rangkaian Grand Launching MBC Gold pada 19 September 2026.
Kolaborasi tersebut mencakup penyediaan produk emas Mentari Bayt Coin bagi Bank BSN. Kerja sama juga mencakup mekanisme pembelian kembali atau buyback.
MBC menyediakan emas batangan dengan kadar kemurnian 99,99 persen. Produk tersebut memiliki sertifikat SNI dan teknologi keamanan Bullion Protect®. Pilihan gramasi tersedia mulai 1 gram hingga 100 gram.
Untuk mendukung transaksi bisnis, MBC juga menyediakan portal digital terintegrasi. Bank BSN dapat memantau harga emas secara real-time melalui platform tersebut. Sistem itu juga mendukung proses pemesanan, pembayaran, pengiriman, dan validasi keaslian emas.
Alex mengatakan emas memiliki posisi penting bagi masyarakat Indonesia sebagai aset penjaga nilai. Karena itu, kerja sama dengan pelaku usaha emas membuka peluang pengembangan produk syariah yang lebih terintegrasi.
Direktur Utama MBC Jebul Suroso menilai bisnis emas memiliki ruang pengembangan yang luas. MBC mengembangkan tiga pilar bisnis, yakni penjualan langsung, cicilan emas, dan tabungan emas.
Kolaborasi tersebut juga membuka peluang integrasi dengan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Pengembangan dapat mencakup kebutuhan tabungan, dana hari tua, hingga persiapan pensiun.
Melalui strategi tersebut, Bank BSN tidak hanya mengejar pertumbuhan pembiayaan. Perseroan juga memperluas akses layanan keuangan syariah melalui kanal digital dan produk berbasis emas. []




