BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Kinerja ekspor Indonesia semakin menguat sepanjang Januari–Agustus 2026. Nilai ekspor nasional mencapai US$193,64 miliar atau meningkat 4,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional, terutama sektor industri pengolahan yang terus mencatat perkembangan positif.
Kementerian Perdagangan mencatat ekspor industri pengolahan mencapai US$159,55 miliar. Nilai tersebut menyumbang 82,40% terhadap total ekspor nasional.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai pencapaian tersebut menunjukkan kemajuan transformasi Indonesia menuju negara eksportir produk manufaktur bernilai tambah.
Selain itu, ekspor sektor industri pengolahan tumbuh 7,87% secara tahunan. Pertumbuhan ini memperkuat kontribusi manufaktur terhadap aktivitas perdagangan internasional.
Pemerintah terus menjalankan strategi perluasan pasar, peningkatan daya saing produk, serta penyederhanaan regulasi untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Langkah tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk memperluas jaringan bisnis dan meningkatkan penetrasi pasar global.
Kinerja Ekspor Menguat, Industri Pengolahan dan UMKM Jadi Penggerak Ekonomi
Penguatan perdagangan internasional turut memperoleh dukungan dari penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14–18 Oktober 2026.
Pameran tersebut mencatat potensi transaksi US$22,94 miliar, melampaui pencapaian tahun sebelumnya sebesar US$22,8 miliar.
Menariknya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) membukukan potensi transaksi US$510,79 juta.
Angka tersebut meningkat dari US$474,7 juta pada penyelenggaraan TEI sebelumnya.
Capaian ini memperlihatkan kemampuan produk UMKM Indonesia memperluas akses pasar dan menarik minat pembeli internasional.
Untuk memperkuat perdagangan, pemerintah juga memanfaatkan berbagai perjanjian ekonomi dengan negara mitra.
Hingga Oktober 2026, sebanyak 25 perjanjian perdagangan telah berlaku, sementara 13 lainnya masih menjalani proses perundingan.
Perjanjian tersebut membuka kesempatan bagi eksportir untuk memperoleh akses pasar yang semakin luas.
Selain itu, Kementerian Perdagangan mempercepat proses administrasi melalui sistem elektronik Surat Keterangan Asal atau e-SKA.
Pemerintah juga menyederhanakan sejumlah regulasi guna meningkatkan efisiensi perdagangan lintas negara.
Dalam pengembangan eksportir baru, program UMKM BISA Ekspor turut mencatat perkembangan positif.
Sepanjang Januari–September 2026, pemerintah memfasilitasi 797 kegiatan penjajakan bisnis dengan potensi transaksi US$361,55 juta.
Nilai tersebut meningkat signifikan dibandingkan potensi transaksi US$134,87 juta sepanjang 2025.
Kementerian Perdagangan juga membina 787 desa melalui program Desa BISA Ekspor untuk memperluas kontribusi ekonomi daerah.
Sementara itu, program Campuspreneur menggandeng 27 perguruan tinggi guna mendorong kewirausahaan dan inovasi produk mahasiswa.
Berbagai inisiatif tersebut memperkuat ekosistem ekspor sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam perdagangan global.
Meski demikian, Indonesia tetap perlu mencermati permintaan global, biaya logistik, dan hambatan perdagangan internasional.
Penguatan kualitas produk, diversifikasi pasar, serta konsistensi kebijakan menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan.
Dengan industri manufaktur yang semakin kompetitif, Indonesia berpeluang memperluas ekspor dan menciptakan nilai tambah ekonomi berkelanjutan. []




