Kredit Macet Bank Mandiri Capai Rp6,7 Triliun

Kredit Macet Bank Mandiri

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Kredit macet Bank Mandiri hingga tahun ini ternyata masih cukup besar, mencapai Rp6,7 triliun.

Kredit macet Bank Mandiri dengan jumlah fantastis itu baru berasal dari satu perusahaan saja, yaitu PT Titan Infra Energy.

PT Titan merupakan perusahaan yang bergerak di sektor tambang batubara yang merupakan debitur dari Bank BUMN tersebut.

VP Corporate Communication PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Ricky Andriano mengatakan, kredit macet bank Mandiri ini dikucurkan bersama beberapa pihak lainnya dalam bentuk sindikasi.

Di antaranya PT Bank CIMB Niaga Tbk, Credit Suisse, dan Trafigura senilai senilai US$ 450 juta atau setara Rp6,7 triliun dengan asumsi kurs per Dolar AS Rp14.970.

Namun hingga kini belum ada kejelasan terkait kapan pasti pelunasan kredit macet Bank Mandiri tersebut meskipun bisnis PT Titan sudah normal pascapandemi.

“Kredit sindikasi ini sampai sekarang belum ada kejelasan, kami dan kreditur lainnya belum menerima proposal restrukturisasi yang dijanjikan pihak PT Titan,” jelas Ricky Andriano dalam keterangannya, Sabtu 2 Juli 2022.

Ia menjelaskan, hingga batas waktu yang disepakati yakni Kamis lalu, 30 Juni 2022 belum ada kepastian dari Dirut PT Titan, Darwan Siregar.

Adapun perusahaan swasta ini sudah tak lagi membayar cicilan utang mulai bulan Februari tahun 2020 lalu.

Pihak kreditur lantas menetapkan label kredit macet sejak bulan Agustus 2020 dan hingga kini tidak ada kelanjutan terkait pelunasan kewajiban sesuai kesepakatan awal.

“Bahkan dalam tiga tahun terakhir belum ada laporan keuangan dari mereka, padahal usaha batubara yang dijalankan sudah lancar,” jelas Ricky.

Ricky pun menegaskan bahwa solusi kredit macet Bank Mandiri ini sebenarnya mudah, yaitu segera lunasi tanpa banyak berdalih.

Pasalnya dari data penjualan batubara di PT Titan pada tahun 2020 nilainya mencapai US$ 226 juta lebih.

Kemudian sepanjang tahun 2021 nilai penjualan perusahaan tersebut melonjak drastis hingga melampaui US$ 281 juta.

Naiknya nilai penjualan batubara ini merupakan dampak dari kenaikan harga batu bara secara global, dimana per Juni 2022 sudah menyentuh US$ 400 per ton.

“Dengan harga batu bara dan penjualan yang terus meningkat, kami yakin

Mereka bisa menyelesaikan kewajibannya. Jadi kalau punya itikat baik segera lunasi kredit dan tunggakannya, jangan berdalih apapun,” tegasnya.

Namun jika perusahaan mengalami keadaan memaksa atau faktor force majeur, Bank Mandiri dan pihak yang tergabung dalam sindikasi ini tentu siap melakukan restrukturisasi, penjadwalan ulang hingga diskon.

 

KREDIT MACET BANK MANDIRI IMBAS PANDEMI

Terkait hal itu, Dirut PT Titan Darwan Siregar menyatakan terjadinya kredit macet Bank Mandiri ini lantaran dampak pandemi Covid 19.

Pihaknya sudah berupaya melakukan penangguhan pembayaran pada tahun 2020, dan perjanjian kredit ini juga berlaku hingga November 2023.

Menurut Darwan, kredit tersebut juga memiliki jaminan beruapa seluruh aset perusahaan, saham, anak perusahaan, dan jaminan pribadi.

“Kondisi pandemi ini yang membuat harga batu bara sempat berada di titik terendah. Kami tentu berupaya mengikuti kebijakan relaksasi kredit, tapi selama 3 tahun terakhir ini upaya restrukturisasi yang kami sodorkan tidak diterima,” kata dia.

Namun sebagai sebagai bentuk niat baik pihak perusahaan dalam waktu dekat akan segera mendatangi kantor Bank Mandiri untuk memulai komunikasi yang lebih baik. []