Kuartal I 2026, BSI Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh

Ekonomi Indonesia

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 tetap berada dalam jalur yang stabil.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional akan terus berlanjut, meskipun terdapat perubahan di tingkat global.

Anggoro memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan berkisar antara 5,28%.

Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, peningkatan investasi, serta kebijakan belanja pemerintah yang ekspansif namun tetap diatur dengan hati-hati.

Selain itu, kelanjutan surplus neraca perdagangan dan peningkatan peran sektor ekonomi serta keuangan syariah juga berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Kuartal I tahun 2026 diperkirakan akan menjadi momentum utama peningkatan konsumsi rumah tangga, sesuai dengan momentum Ramadan dan Hari Raya Idulfitri yang biasanya meningkatkan kegiatan ekonomi,” tambah Anggoro.

Dari segi fiskal, Anggoro menilai bahwa belanja pemerintah pada tahun 2026 akan lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp276 triliun ke sektor perbankan, termasuk BSI, diharapkan dapat meningkatkan likuiditas, menurunkan biaya dana, serta mendorong kenaikan pembiayaan hingga dua digit.

“Kondisi ini diharapkan mampu mempercepat aktivitas ekonomi melalui terlibatnya sektor swasta yang lebih aktif, sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja dan menjaga daya beli masyarakat,” jelasnya.

Dari perspektif konsumsi masyarakat, BSI memperkirakan daya beli akan tetap tumbuh pada kuartal pertama tahun 2026.

Optimisme ini terlihat dari meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen ke tingkat 124 pada November 2025, serta pertumbuhan penjualan ritel sebesar 4,3% secara tahunan pada Oktober 2025.

Anggoro menambahkan bahwa kebijakan pemerintah yang berkelanjutan seperti insentif pajak dan program bantuan sosial, termasuk BLT Sejahtera, diharapkan dapat memperkuat konsumsi, terutama pada masyarakat menengah ke bawah.

Dari perspektif global, BSI mengatakan bahwa ekonomi dunia pada tahun 2026 masih akan terdampak oleh ketidakpastian yang disebabkan oleh konflik geopolitik dan ancaman perang dagang.

Tingkat optimisme tergolong moderat atau berada di skor 3. Meski demikian, menurunnya inflasi global memberikan peluang menurunnya suku bunga, termasuk Federal Funds Rate (FFR), yang bisa mendorong aliran modal masuk ke negara-negara dengan ekonomi yang berkembang, seperti Indonesia. Selain itu, harga emas diperkirakan akan tetap mengalami kenaikan.

Situasi ini memberikan peluang bagi BSI untuk mengembangkan bisnis emas yang terintegrasi dengan ekosistem keuangan syariah, seiring dengan izin yang dimiliki untuk perdagangan dan penyimpanan emas.

Dari sudut pandang domestik, Anggoro menyatakan bahwa stabilitas politik pada kuartal pertama tahun 2026 dapat membaik seiring upaya pemerintah meningkatkan daya beli dan peran sektor swasta dalam menciptakan lapangan kerja. Hal ini diharapkan menciptakan iklim bisnis yang lebih baik.

Dengan berbagai faktor tersebut, BSI memastikan akan melanjutkan ekspansi bisnis pada kuartal pertama tahun 2026.

Fokus utama akan tertuju pada segmen ritel konsumer, pengembangan Bank Emas, layanan haji, serta peningkatan kolaborasi lintas segmen, mulai dari UMKM, konsumer, SME hingga korporasi.

“BSI optimis bahwa keuangan syariah sekarang tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi telah menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan sektor keuangan nasional.

Pertumbuhan aset, pembiayaan, dan DPK yang berkisar dua digit mencerminkan kenaikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah,” tutup Anggoro. []