Pembubaran BUMN! Erick Thohir Tutup 3 BUMN

Pembubaran BUMN

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Pembubaran BUMN ‘sakit’ di bawah kepemimpinan Erick Thohir masih terus berlanjut. Yang terbaru, Menteri BUMN Erick Thohir mengumumkan pembubaran BUMN di tiga perusahaan yang sudah lama tak beroperasi.

Ketiga perusahaan pelat merah tersebut adalah PT Industri Gelas, PT Kertas Kraft Aceh dan PT Industri Sandang Nusantara.

Menariknya, salah satu BUMN yang dibubarkan ini ternyata pernah menjadi tempat Presiden Joko Widodo (Jokowi) bekerja, yaitu PT Kertas Kraft Aceh.

Erick Thohir memang punya visi besar dalam membangun BUMN Indonesia yang berdaya saing dan punya bisnis besar hingga skala internasional.

Sehingga pembubaran BUMN sakit menjadi salah satu fokus Erick Thohir dan langkah ini masih akan terus berlanjut.

Bahkan Erick berharap perampingan perusahaan pelat merah ini akan dilanjutkan oleh menteri BUMN selanjutnya. Berikut ini profil dari 3 perusahaan yang resmi dibubarkan Erick Thohir:

1. PT INDUSTRI GELAS (PERSERO)

BUMN ini dibentuk pada tahun 1956 lalu, artinya sudah berusia 66 tahun dan kini resmi ditutup.

PT Iglas awalnya dibentuk untuk menjalankan bisnis pembuatan gelas kemasan serta botol untuk minuman ringan, farmasi, makanan dan kosmetika.

Namun kinerja BUMN ini dalam beberapa tahun terus menurun, sehingga pada September 2021, Kementerian BUMN menyelesaikan hak para mantan pegawai dan membayarkan pesangon kepada 429 orang.

Pembayaran pesangon ini dilakukan PT PPA lalu melakukan pengambilalihan aset perusahaan setelah mendapatkan persetujuan dari Kementerian BUMN.

2. PT KERTAS KRAFT ACEH (PERSERO)

Perusahaan ini berdiri pada bulan Februari 1983 dengan lini bisnis yang fokus pada industri kertas kantong semen.
PT Kertas Kraft Aceh berlokasi di Bandabaro Kabupaten Aceh Utara dan diketahui Presiden Jokowi pernah menjadi pekerja di BUMN ini.

3. PT INDUSTRI SANDANG NUSANTARA (PERSERO)

Pembubaran BUMN juga terjadi pada PT ISN yang merupakan perusahaan penghasil tekstil dan produk terkait lainnya.

BUMN ini memiliki produk dan layanan trading, aparel and uniform, sewa dan masker (Insan Mask).

Erick Thohir menyatakan, target selanjutnya adalah mengurangi jumlah BUMN yang ada saat ini agar nantinya hanya sebanyak 37 perusahaan saja.

Selama ini, Erick tak hanya melakukan pembubaran BUMN, tapi juga melakukan merger hingga membentuk berbagai Holding yang sesuai dengan sektor bisnisnya masing-masing.

“Dari sebelumnya ada 108 perusahaan sudah kita susutkan menjadi 41, artinya yang terpangkas sudah ada 67 perusahaan karena ditutup atau merger,” jelas Erick.

Meski sudah ada puluhan perusahaan yang merger atau ditutup, ternyata Erick mengaku belum puas, sehingga perampingan jumlah BUMN akan terus berlanjut.

Erick menegaskan, BUMN dengan jumlah sedikit tapi kapasitas bisnisnya besar, itu jauh lebih baik daripada jumlahnya banyak tapi bisnisnya kecil dan pengembangannya sulit.

“Karena itu saya coba fokuskan agar bisa nantinya hanya sebanyak 37 perusahaan saja, bahkan kita cita-citakan sampai 30,” jelasnya.

Langkah perampingan BUMN ini kata Erick Thohir sudah langsung menunjukkan dampak positif, yang terlihat dari besaran laba BUMN meningkat menjadi Rp90 triliun dari sebelumnya hanya Rp13 triliun. []