BUMNREVIEW.COM, Jakarta – PT Pertamina (Persero) memperluas peluang pengembangan bisnis rendah karbon melalui sinergi dengan PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dalam pengembangan ekosistem industri baterai terintegrasi. Penjajakan ini menjadi bagian dari implementasi Dual Growth Strategy Pertamina, yakni memperkuat bisnis eksisting sekaligus mengembangkan sumber pertumbuhan baru untuk mendukung transisi dan ketahanan energi nasional.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Sinergi Pengembangan Ekosistem Industri Baterai Terintegrasi di fasilitas PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8).
SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, mengatakan sinergi dengan IBC membuka peluang bagi Pertamina untuk memperluas portofolio bisnis, khususnya pada pengembangan Battery Energy Storage System (BESS) dan berbagai teknologi pendukung ekosistem baterai.
“Ekosistem baterai dan kendaraan listrik merupakan salah satu pilar dari Dual Growth Strategy Pertamina. Kami melihat peluang besar untuk dikomersialisasikan, mulai dari pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), battery recycling, pengembangan industri baterai masa depan, hingga optimalisasi fasilitas riset dan laboratorium baterai yang terintegrasi,” ujar Hana.
Menurut Hana, kesepahaman dengan IBC menjadi langkah awal untuk menjajaki pemanfaatan kompetensi dan kapabilitas kedua perusahaan dalam pengembangan material dan ekosistem baterai. Penjajakan tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi peluang pengembangan teknologi sekaligus potensi bisnis yang memiliki kelayakan komersial dan dapat ditindaklanjuti menuju implementasi.
Salah satu peluang yang akan dijajaki lebih lanjut adalah BESS, baik berupa Portable Power Station maupun Stationary Power Station. Potensi pengembangan BESS dapat menjadi bagian dari solusi penyimpanan energi sekaligus membuka peluang bisnis Pertamina pada rantai nilai energi masa depan.
Selain BESS, penjajakan lainnya mencakup pengembangan teknologi baterai masa depan, pengelolaan baterai bekas melalui recycle dan reuse, serta potensi pemanfaatan material turunan migas Pertamina untuk mendukung rantai pasok baterai.
Direktur Pengembangan Bisnis IBC, Niko Chandra, mengatakan penjajakan bersama Pertamina diharapkan dapat memperluas pemanfaatan kapabilitas industri baterai yang tengah berkembang di Indonesia.
“Penandatanganan MoU ini merupakan langkah strategis yang sangat penting bagi IBC. Kolaborasi dengan Pertamina membuka peluang besar untuk mengintegrasikan kekuatan dua perusahaan nasional dalam membangun ekosistem baterai yang kokoh dan berkelanjutan. Kami percaya sinergi ini akan memberikan kontribusi nyata bagi percepatan transisi energi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta industri baterai global,” ujar Niko.
IBC bersama konsorsium CATL–Brunp–Lygend (CBL) saat ini juga tengah mengembangkan industri baterai terintegrasi, termasuk melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang. Fasilitas manufaktur baterai tersebut telah mulai beroperasi secara bertahap sejak Juli 2026 dan turut memiliki kapabilitas pengembangan produk BESS.
Bagi Pertamina, penjajakan pengembangan ekosistem baterai menjadi bagian dari upaya membuka peluang pertumbuhan baru yang melengkapi bisnis energi eksisting, sekaligus memperluas portofolio bisnis rendah karbon dalam mendukung transisi dan ketahanan energi Indonesia. []




