Proyek Gasifikasi Pembangkit Listrik, PGN Kebut Pengerjaan di 10 Titik Lokasi

Proyek Gasifikasi

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Proyek Gasifikasi Pembangkit Listrik yang digarap PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk terus dikebut.

Pengerjaan proyek gasifikasi ini sudah diatur dalam Keputusan Menteri ESDM yang lokasinya tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

PGN masih menggarap proyek gasifikasi di 10 titik yakni di Jeranjang-Lombok NTB, Sumbawa, Bima, Rangko-Flores, Maumere, Alor, Waingapu, Kupang, Sulawesi Tenggara di Konawe-Kendari dan Bau-Bau.

Saat ini ke-10 titik itu sudah masuk tahap perizinan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Achmad Muchtasyar menyatakan, kebutuhan gas bumi untuk Cluster Nusa Tenggara dan Sulawasi Tenggara nantinya akan dipasok dari Bontang.

“Untuk itu kami terus berupaya merampungkan seluruh proses proyek regasifikasi pembangkit listrik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Achmad, Rabu (15/6/2022).

Menurutnya perizinan KKPRL merupakan salah satu tahap yang penting, karena fasilitas tersebut akan digunakan untuk proses transfer LNG sebagai moda transportasi gas antar pulau.

Ia menjelaskan, ada beberapa lokasi regasifikasi PLTMG yang masuk ke dalam Zona Konservasi Laut di antaranya Alor, Waingapu dan Kupang.

Maka perencanaan infrastruktur jalur LNG ini harus benar-benar matang, sehingga pelaksanaan operasi gas bumi nantinya berjalan aman dan berkelanjutan.

Untuk itu, PGN memperhatian setiap aspek dalam proyek ini, terutama pada aspek lingkungan dan keselamatan ekosistem di sekitar proyek demi menjaga kelangsungan hidup dan habitat laut.

Tantangan lain yang dihadapi Subholding Gas PT Pertamina ini adalah kondisi lingkungan regasifikasi, dimana pembangkit listrik secara umum terletak di pinggir pantai dengan kondisi gelombang tinggi dan berbatu.

Namun hal ini harus bisa dihadapi, karena proyek gasifikasi pembangkit listrik akan menjadi gerbang untuk masuk ke seluruh segmen pengguna gas bumi, seperti industri, komersial, UMKM, hingga kebutuhan rumah tangga.

Selanjutnya PGN akan memasuki pasar Indonesia Timur agar pemanfaatan gas bumi bisa semakin luas dan target pemerintah bisa tercapai.

Adapun penggunaan gas bumi ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menghadirkan energi transisi yang ramah lingkungan menuju net zero emission.

Hal ini juga didukung penuh oleh Menteri BUMN Erick Thohir, karena dalam jangka panjang, batubara tidak lagi digunakan untuk pembangkit listrik.

Namun ia menyadari bahwa proses peralihan dan gasifikasi ini membutuhkan waktu yang lama, serta investasi yang besar.

Namun perubahan itu harus dimulai dari sekarang, dan terus berbenah untuk memproduksi listrik dari energi baru terbarukan seperti matahari, tenaga panas bumi, air, angin. []