Rabu, Agustus 12, 2026
Beranda BERITA UTAMA Review Laba BUMN di Bawah Danantara, ini Hasilnya!

Review Laba BUMN di Bawah Danantara, ini Hasilnya!

Laba BUMN

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Kinerja sejumlah badan usaha milik negara atau BUMN menunjukkan penguatan pada semester I 2026. Sejumlah perusahaan mencatat kenaikan laba yang signifikan. Bahkan, beberapa BUMN berhasil membalikkan posisi rugi menjadi laba.

Perbaikan tersebut menjadi sinyal positif bagi transformasi perusahaan negara. Kinerja ini juga menjadi salah satu indikator awal konsolidasi BUMN dalam ekosistem Danantara.

Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto menilai sejumlah BUMN besar masih menjadi penopang utama kinerja perusahaan negara. Menurutnya, sektor perbankan, pertambangan, telekomunikasi, dan energi tetap memberikan kontribusi penting.

“Menurut saya kinerja solid masih ditunjukan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN,” ujar Toto di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Laba BUMN Menguat, Timah Catat Lonjakan Tertinggi

PT Timah Tbk mencatat pertumbuhan laba paling tinggi dalam daftar perusahaan yang dilaporkan. Perseroan membukukan laba bersih Rp2,71 triliun pada semester I 2026.

Angka tersebut melonjak 804,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada semester I 2025, laba Timah tercatat sekitar Rp300 miliar.

Kinerja positif juga datang dari PT Pupuk Indonesia. Perusahaan mencatat laba bersih Rp8,51 triliun. Angka tersebut tumbuh 253 persen dari Rp2,41 triliun pada semester I 2025.

Di sektor semen, PT Semen Indonesia membukukan laba Rp193,46 miliar. Capaian tersebut meningkat 196,5 persen secara tahunan. PT Agrinas Palma Nusantara juga mencatat laba Rp890 miliar atau tumbuh 150 persen.

Penguatan kinerja turut terlihat pada sektor jasa keuangan dan logistik. Pegadaian mencatat laba Rp6,59 triliun atau tumbuh 84,6 persen. Pelindo membukukan laba Rp2,57 triliun dengan pertumbuhan 60,4 persen.

PTPN IV PalmCo juga mencatat laba Rp3,23 triliun. Perolehan tersebut naik 54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, BTN membukukan laba Rp2,40 triliun atau tumbuh 40,8 persen.

Bank Mandiri turut menjaga pertumbuhan dengan laba Rp30,41 triliun. Angka tersebut meningkat 24,3 persen secara tahunan. Pertamina Geothermal Energy juga membukukan laba US$79,61 juta atau tumbuh 15,5 persen.

Perbaikan tidak hanya terjadi pada BUMN yang sudah mencatat laba. Krakatau Steel berhasil membalikkan kinerja dari rugi sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150 miliar hingga Rp185 miliar.

Kimia Farma juga menunjukkan pemulihan. Perseroan membalikkan rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar.

Toto menilai tren tersebut membuka ruang bagi perbaikan kinerja BUMN. Namun, perusahaan negara tetap perlu memperkuat efisiensi dan fundamental bisnis.

Menurutnya, proses streamlining BUMN juga perlu berjalan lebih cepat. Langkah tersebut dapat membantu perusahaan memperbaiki struktur dan meningkatkan daya saing.

Kinerja semester I 2026 menjadi momentum penting bagi transformasi BUMN. Tantangan berikutnya adalah menjaga pertumbuhan laba secara konsisten.

Danantara juga perlu memastikan peningkatan laba berjalan bersama penguatan tata kelola. Efisiensi, produktivitas, dan penciptaan nilai harus menjadi agenda utama.

Dengan demikian, kenaikan laba tidak sekadar menjadi capaian jangka pendek. Perusahaan negara perlu membangun fundamental yang kuat agar mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional. []