Sewa Pesawat Garuda Turun Drastis, Garuda Indonesia Fokus Kejar Profit

Sewa pesawat Garuda

BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Sewa pesawat Garuda terus ditekan setelah adanya perjanjian damai oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada Senin lalu.

Kini PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tengah berupaya menaikkan profit di berbagai lini usaha, salah satunya merubah skema sewa pesawat Garuda dengan lessor.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjelaskan selain biaya sewa, jumlah pesawat yang dioperasikan juga turun dari 210 menjadi 120 unit pesawat.

“Salah satu skema restrukturisasi yang kita perbaharui adalah kontrak sewa pesawat dengan para kreditur. Untuk pesawat narrow body skema baru mulai berlaku Desember 2022, jenis pesawat wide body mulai Juni 2023 dan pesawat Boing 777 sampai Desember 2023,” papar Irfan, Selasa (28/6/2022).

Irfan Setiaputra menyebutkan, setelah restrukturisasi ini pihak perseroan dan lessor akan menerapkan skema Power By The Hour (PBH), yaitu sewa pesawat hanya dibayarkan jika armada tersebut digunakan.

Jika dirinci, biaya sewa bulanan jenis pesawat narrow body bisa turun hingga 31 persen jika skema baru ini mulai berjalan.

Sementara sewa bulanan untuk jenis pesawat berbadan lebar penurunan sewanya bisa lebih besar hingga 55 persen.

“Dengan berkurangnya biaya sewa pesawat Garuda, kami menargetkan mulai membukukan profit setelah skema restrukturisasi ini diresmikan, terutama untuk aturan sewa pesawat dengan lessor,” jelas dia.

Tingginya Biaya Sewa Pesawat Garuda

Sementara Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan, skema restrukturisasi baru ini akan menurunkan kewajiban jumlah utang perusahaan.

Menurutnya, permasalahan terbesar yang terjadi pada maskapai BUMN ini yaitu jumlah pesawat yang terlalu banyak dan tingginya biaya sewa.

Hal ini membuat perseroan kesulitan mendapatkan untung lantaran pendapatan sudah habis membayar biaya sewa pesawat Garuda.

“Yang paling penting adalah negosiasi biaya sewa pesawat yang digunakan ke depan agar neraca keuangan Garuda lebih sehat,” kata dia.

Tiko membeberkan beberapa penyesuaian sewa nantinya bisa sangat signifikan, terutama pesawat berbadan lebar yang bisa turun hingga 65 persen, dari US$1,1 juta menjadi US$388 ribu per bulan.

Kemudian untuk jenis pesawat A330-200 dan Boeing B777-300 biaya sewanya bisa turun hingga 69 persen per bulan, yaitu dari US$882 ribu menjadi US$265 ribu dan dari US$1,57 juta menjadi US$484 ribu.

“Maka penyesuaian biaya sewa pesawat ini bisa menjadi basis perusahaan untuk mulai meningkatkan profitabilitas,” paparnya.

Ia menambahkan, pendapatan Garuda saat ini memang belum mencapai level yang sama seperti sebelum pandemi, tetapi peningkatan profitabilitas sudah mulai terjadi setelah efisiensi biaya diterapkan.

Pada Mei 2019 lalu, pendapatan bulanan Garuda mencapai US$239,7 juta sementara biaya operasional yang dikeluarkan mencapai US$249 juta sehingga terjadi kerugian.

Tingginya biaya operasional ini salah satunya dipengaruhi biaya sewa yang cukup tinggi, mencapai 30 persen dari pendapatan.

Sementara pada bulan Mei tahun ini, biaya operasional Garuda hanya US$74,8 juta sementara pendapatannya US$82,8 juta, sehingga ada laba bersih yang didapat. []