BUMNREVIEW.COM, Jakarta – Kinerja bank BUMN sepanjang semester I 2026 menunjukkan fundamental yang tetap kuat. Empat bank besar milik negara, yakni BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN, mampu menjaga ekspansi bisnis di tengah dinamika ekonomi dan persaingan likuiditas.
Persaingan paling menarik terjadi pada sisi profitabilitas. BRI dan Bank Mandiri mencatat laba di atas Rp30 triliun. BNI mempertahankan pertumbuhan kredit yang agresif. Sementara itu, BTN mencatat pertumbuhan laba paling tinggi secara persentase.
Lantas, siapa yang layak menyandang predikat bank BUMN terbaik pada semester I 2026?
Jawabannya bergantung pada indikator yang digunakan. Jika memakai nominal laba konsolidasi, BRI berada di posisi teratas. Namun, Bank Mandiri unggul dari sisi pertumbuhan laba sekaligus skala ekspansi kredit yang kuat.
Kinerja Bank BUMN Semester I 2026: BRI dan Mandiri Bersaing Ketat
BRI tampil sangat kuat sepanjang enam bulan pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, BRI mencatat laba periode berjalan Rp31,18 triliun. Angka tersebut naik dari Rp26,53 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp30,87 triliun. Angka ini juga meningkat dibandingkan Rp26,28 triliun pada semester I 2025.
Kualitas kredit BRI juga menunjukkan perbaikan. NPL konsolidasi turun menjadi 2,90% pada Juni 2026 dari 3,07% pada akhir 2025. Rasio NPL neto berada pada level 0,98%.
Dengan basis laba konsolidasi, BRI menjadi bank BUMN dengan laba terbesar pada semester I 2026. Namun, selisihnya dengan Bank Mandiri sangat tipis jika menggunakan laba yang menjadi hak pemegang saham induk.
Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun. Laba tersebut tumbuh 24,4% secara tahunan. Pertumbuhan itu menjadi salah satu indikator kuat dari ekspansi bisnis perseroan.
Dari sisi kredit, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan 19,9% secara tahunan menjadi Rp1.592 triliun per Juni 2026. Pertumbuhan tersebut berada di atas pertumbuhan kredit industri yang mencapai 12,7%.
Performa tersebut menunjukkan kekuatan Bank Mandiri dalam menangkap peluang pertumbuhan kredit. Perseroan juga terus memperluas bisnis pada ekosistem pemerintah, BUMN, korporasi, hingga sektor usaha mikro.
BNI berada pada posisi berikutnya dengan laba bersih Rp10,8 triliun. Kinerja tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan kredit yang sangat kuat.
Hingga Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun. BNI menjaga pertumbuhan tersebut melalui diversifikasi portofolio. Segmennya mencakup korporasi, menengah, UMKM, dan konsumer.
Pendapatan bunga bersih BNI juga tumbuh 14,2% menjadi Rp22,3 triliun. Fee-based income naik 14,2% menjadi Rp9 triliun. Kombinasi tersebut membawa PPOP ke level Rp18,5 triliun. Angka itu menjadi rekor BNI untuk periode semester pertama.
Kualitas aset BNI ikut menguat. Loan at Risk turun dari 11% menjadi 8,1%. NPL bertahan pada level 1,9%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit berjalan bersama pengelolaan risiko yang disiplin.
Laba Bank BUMN 2026: BTN Jadi Juara Pertumbuhan
BTN menghadirkan cerita yang berbeda. Bank spesialis pembiayaan perumahan ini mencatat laba bersih konsolidasi Rp2,40 triliun pada semester I 2026.
Laba tersebut tumbuh 40,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu menjadi yang tertinggi di antara empat bank BUMN dalam perbandingan ini.
BTN juga mencatat perbaikan kualitas aset. NPL turun dari 3,3% menjadi 2,99%. Loan at Risk turun menjadi 18,6% dari 20,2%. Cost of Credit juga turun dari 2% menjadi 0,7%.
Dari sisi kredit dan pembiayaan, BTN mencatat pertumbuhan 11,2% menjadi Rp418,11 triliun. Kredit non-perumahan tumbuh lebih agresif, yakni 46,1%. Strategi tersebut menjadi bagian dari agenda beyond mortgage BTN. Perbandingan ini menunjukkan karakter berbeda pada setiap bank.
BRI menjadi juara dari sisi laba konsolidasi. Bank Mandiri tampil kuat dari sisi laba dan ekspansi kredit. BNI unggul dalam pertumbuhan kredit sekaligus menjaga kualitas aset. BTN memimpin dari sisi pertumbuhan laba.
Karena itu, tidak tepat menilai bank BUMN terbaik hanya berdasarkan satu indikator. Nominal laba menunjukkan skala profitabilitas. Pertumbuhan kredit menggambarkan ekspansi bisnis. Sementara NPL dan Loan at Risk menunjukkan kualitas pertumbuhan tersebut.
Jika ukuran utama adalah laba konsolidasi semester I 2026, BRI berada di posisi pertama dengan Rp31,18 triliun. Bank Mandiri menyusul dengan Rp30,4 triliun. BNI mencatat Rp10,8 triliun. BTN berada di Rp2,40 triliun.
Namun, jika ukuran utamanya adalah pertumbuhan laba, BTN menjadi pemenang dengan kenaikan 40,8%. Jika ukurannya adalah pertumbuhan kredit, BNI mencatat kenaikan 24,4%.
Dengan demikian, persaingan bank BUMN pada semester I 2026 memperlihatkan satu kesimpulan penting. Setiap bank memiliki mesin pertumbuhan yang berbeda.
BRI masih kuat dengan skala bisnis dan basis nasabah yang besar. Bank Mandiri terus memimpin ekspansi kredit dengan profitabilitas tinggi. BNI mempercepat pertumbuhan kredit melalui diversifikasi. BTN memperluas sumber pendapatan sambil mempertahankan bisnis perumahan sebagai fondasi.
Memasuki semester II 2026, kemampuan menjaga kualitas kredit akan menjadi faktor penting. Bank yang mampu mempertahankan pertumbuhan tanpa meningkatkan risiko secara berlebihan berpeluang menutup tahun dengan kinerja paling solid.
Jadi, siapa juaranya? BRI unggul tipis dari sisi laba konsolidasi, Bank Mandiri menjadi pesaing terdekat, BNI menonjol dari pertumbuhan kredit, sementara BTN menjadi juara pertumbuhan laba. []




